Dari Festival Jawa Bersyi’ir : Lesbumi Menggebrak Lewat Wayang Mika-El
MASIHKAH segar embun menetes di esok pagi, langit malam berwarna darah, wajah-wajah bersimbah amarah, kaki-kaki melangkah tanpa arah”.
Sebuah prolog sebagai pertanda jejer pergelaran wayang Mika-El sebagai puncak acara ‘Festival Jawa Bersyi’ir’ yang di gelar di Jalan Wonokromo Pleret Bantul, Minggu malam (19/10). Pergelaran wayang Mika-El merupakan pengembangan sebuah tradisi yang dikemas lebih modern seiring dengan kemajuan teknologi. wayang Mika-El juga sebagai gebrakan dari Lesbumi DIY dalam melakukan terobosan baru di dunia seni perwayangan dan musik.
Dalam pergelaran wayang Mika -El itu dibawakan Ki Dalang Kaji Habib dengan mengambil lakon dari Dewa Ruci, yaitu Pencarian Jati Diri. Menurut Koordinator acara Jawa Bersyi’ir sekaligus Ketua Lesbumi DIY, M Jadul Maula, dalam pergelaran itu disampaikan pesan bagaimana seseorang sedang melakukan pencarian jati diri. Lakon itu diambil dari sebuah fenomena terjadinya krisis multi dimensi yang malanda bangsa Indonesia. Pencarian jati diri itu disampaikan lewat seni wayang Mika-El yang dikolaborasi dengan kesenian hadrah, rodat serta montro. “Pentas wayang Mika -El ini bisa dikolaborasi dengan berbagai kesenian yang lain, karena dipentaskan di lingkungan pesantren, maka kolaborasinya dengan kesenian Islami. Inilah yang membuat wayang Mika-El menjadi unik dan sebagai ciri khas Lesbumi,” kata Jadul.
Masih kata Jadul, wayang Mika -El juga bisa dikolaborasi dengan teater dan kesenian yang lain. Lebih jauh Jadul menjelaskan, wayang Mika-El terbentuk sejak dua tahun silam itu, pementasan Minggu malam (19/10) adalah kali pertama bagi masyarakat luas. Sementara diambilnya nama wayang Mika -EL itu, dengan pertimbangan semakin majunya teknologi. Selama ini wayang terbuat dari kulit yang disungging. Wayang dengan berbahan baku mika, menurut Jadul, bila disorot dengan sinar, akan berwarna sesuai dengan warna aslinya. Sedang El, diambil dari nama Malaikat Mikael sebagai pembagi rezeki bagi manusia, dan El juga bisa diartikan sebagai pengeling-eling bagi manusia yang hidup di dunia.
Sedang Wayang yang dipentaskan hingga saat ini belum ada nama yang pakem. Namun untuk bentuknya kata Jadul, berbeda dengan bentuk wayang kulit. “Bentuknya disesuaikan dengan bentuk yang jadi dalang,” kata Jadul sambil menunjuk geber.
Pergelaran wayang Mika-El dijadikan sebagai puncak acara Jawa Bersyi’ir yang digelar dua hari, Sabtu (18/10) - Minggu (19/10). Pentas perdana wayang Mika -El itu mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat. Hal itu terlihat dari banyaknya warga yang memadati sekitar panggung pementasan, baik anak-anak dan orang tua. Tidak jarang terdengar sorak-sorai dari penonton yang menyaksikan pementasan wayang selama dua jam itu.
Sebagai pengiring ada beberapa alat musik kontemporer, biola, jimbe, bas, serta gendang. Acara didukung Lesbumi NU DIY, Rabitnah Ma’ahid Islamiyah Cabang Bantul, komunitas Mata Pena, kelompok wayang Mika -El, kelompok musik Gangsadewa, Combine Resources Institution serta Recent Media.
sumber: Kedaulatan Rakyat, 21.10.2008
Ditulis oleh Yayasan Akar Rumput pada Oct 22, 2008, Berita





